6 Wisata Kampung Adat di Flores yang Punya Pesona Menawan


Flores kaya akan tradisi. Selain tenun dan tari-tarian, salah satu yang eksotis adalah kampung adatnya. Selama ini, kampung adat yang terkenal adalah Waerebo. Namun ternyata, di Flores masih banyak kampung adat yang bagus-bagus dan jarang diketahui orang. Apa saja?

 

1. Kampung Bena

Kampung Bena mungkin menjadi salah satu yang terkenal di Flores. Tempat ini sudah kerap dikunjungi oleh pelancong, baik dari dalam maupun luar negeri. Lokasinya berada tengah Flores, tepatnya di Kabupaten Ngada. Ini adalah perkampungan megalitikum yang terletak di puncak bukit berlatar pemandangan Gunung Inerie.

Kampung ini memilikin 40 rumah. Semuanya berhadapan. Pintunya berada di sisi utara, sedangkan ujungnya berada di selatan.

Penduduk asli Kampung Bena termasuk suku Bajawa. Mereka umumnya bekerja di ladang, bagi yang laki-laki. Sementara itu, para perempuan bekerja di rumah, menenun kain. Produk masyarakatnya, selain kain adat, adalah kopi yang terkenal dengan kopi Bajawa.

Di kampung ini, warganya ramah-ramah dan terbuka terhadap pendatang. Tak perlu sungkan untuk berinteraksi dengan mereka.

 

2. Waerebo

Selain Kampung Bena, yang umum dikenali pelancong adalah Waerebo. Lokasinya berada di gunung, di Kabupaten Manggarai. Orang-orang sering menyebut kampung di atas awan. Sebab, lantaran berada di ketinggian, kampung ini sering tertutup kabut dan punya udara yang sangat dingin. Hanya ada tujuh rumah utama di sana, yang disebut sebagai Mbaru Niang. Secara historis, nenek moyang mereka berasal dari Minangkabau, Sumatera.

Untuk menuju kampung ini, perlu trekking kurang lebih 3-4 jam. Kontur jalannya cukup sulit bagi pemula. Namun, ketika sampai di atas, semua kerumitan yang dirasakan akan terbayar. Panoramanya apik. Mata akan terpuaskan melihat barisan gunung dan lanskap karpet alam yang membentang.

 

3. Wologai

Kampung adat ini berada di Kecamatan Detusoko, Ende, Flores, NTT. Memang tak banyak wisatawan yang tahu keberadaannya. Padahal, sama dengan Kampung Bena dan Waerebo, Kampung Wologai menyimpan tradisi yang tak kalah menarik. Kampung ini usianya sudah lebih dari 800 tahun. Lokasinya berada di tengah lembah, dikelilingi bukit-bukit hijau.

Kalau ingin ke sana, butuh melakukan perjalanan melewati jalan-jalan berliku. Jaraknya kurang lebih 37km dari Kota Ende.

Hampir serupa dengan rumah adat di Flores lainnya, Wologai juga memiliki keunikan bangunan. Bentuk rumahnya membentuk kerucut. Tata letak bangunannya melingkar dan bertingkat-tingkat. Makin ke atas, pelatarannya makin sempit, membentuk kerucut.

 

4. Wolojita

Ende memang kaya akan kampung adat. Setelah Wologai, ada Wolojita yang tak kalah menarik. Masyarakatnya memiliki tradisi unik, yaitu menjadikan tetua adatnya mumi. Selain itu, jenazah masyarakat setempat di simpan di atas pohon. Maksudnya ialah sebagai penghormatan. Mirip dengan yang terjadi di Trunyan atau Toraja. Pohon itu biasanya terletak di belakang perkampungan. Ada sebuah ritual yang dilakukan untuk melakukan penghormatan terhadap tetua yang sudah meninggal. Umumnya dilakukan setiap tahun.

 

5. Kampung tradisional Ruteng Pu’u

Kampung tradisional ini berlokasi di Ruteng, Flores bagian barat. Letaknya di Kelurahan Golo Dukal, Langke Rembong, Manggarai. Kira-kira 4km dari Ruteng. Waktu tempuhnya hanya 10 menit menggunakan kendaraan. Di sana, pengunjung bisa menyaksikan keaslian rumah adat Mbaru Niang. Dapat juga menyaksikan upacara tradisional yang digelar sebagai wujud syukur terhadap pemberi hidup. Biasanya masyarakat menyembelih kerbau atau sapi. Soal tata bangunan, desa ini memiliki halaman bulat. Di tengahya terdapat sebuah altar yang dikelilingi bebatuan rapi.

 

6. Kampung Adat Gurusina

Kembali ke Ngada. Kampung ini berlokasi di Kecamatan Jerebuu, 16km dari Aimer dan 21km dari Bajawa. Mirip dengan Kampung Bena, Kampung Adat Gurusina terletak di balik Gunung Inerie. Jadi, bila bertandang ke sana, pengunjung akan dihadapkan oleh rupa alam yang indah dengan komposisi yang tepat.

Tipikal bangunannya unik. Di rumah utama, terdapat hiasan di atas atap sebagai penandanya. Sedangkan di rumah-rumah lain, terdapat pajangan tanduk kerbau. Kampung adat ini disebut sebagai kampung tertua di Flores karena sudah ada sejak 5.000 tahun lalu.

Ada 33 rumah yang berdiri di sana. Masyarakatnya memiliki alat musik khas bernama begho yang menyerupai gitar, memiliki enam senar.

Siap-siap datang ke Flores dan jelajah kampung adat? Siapkan budget yang cukup ya.